Vibes for God About Islam and Gender

ILUSTRASI: Kedua orang berjabat tangan demi kemaslahatan bersama.

Agama islam mengajarkan bahkan memberikan tuntunan berupa perintah dalam memanusiakan manusia dengan sangat mulia, tanpa membedakan antara laki-laki maupun perempuan. Menyamaratakan kedudukan peran antara laki-laki dan perempuan. Hanya saja perbedaan yang ada pada masing-masing ciptaan tuhan tersebut terletak pada jenis kelaminnya saja. Seks diartikan hal yang menonjol antara perempuan dan laki-laki dilihat dari segi biologisnya, sedangkan definisi gender yaitu suatu konstruksi budaya yang disandangkan untuk laki-laki dan perempuan di masing-masing tempat dalam mempersepsikan peran, jenis, serta pola diranah sosial.

Padahal Allah SWT mengajarkan bahwasanya empat pilar yang harus ditegakkan manusia dalam kehidupan harus tetap dilestarikan. Enam pilar tersebut diataranya humanisme ( memanusiakan manusia ), ketaqwaan, peradaban, serta sosiality ( sosial ). Kita kupas satu persatu poin penting dari keempat pilar itu. Kita bisa mengetahui, peradaban dunia dari masa ke masa telah terjadi pesat dengan berbagai macam perubahan manusia yang disertai dengan kemunculan berbagai agama, ras, suku, budaya. Pandangan kepada perempuan dari zaman jahiliyyah ( zaman kebodohan ) dengan zaman peradaban yang sangat berbeda dengan perbedaan pandangan terhadap anak perempuan yang dahulu sangatlah rendah kedudukannya. Kini, derajat perempuan menjadi mulia berkat perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam memerdekakan kedudukan, hak dan keeksistensiannya kaum perempuan.

Selain itu, ada pun pilar dalam memanusiakan manusia dengan memberikan ruang kebebasan kepada sesama manusia dalam memilih agama, menghormati setiap kebijakan-kebijakan atau pendapat orang lain terhadap apa-apa yang dilihat, memberikan kebebasan dengan mendirikan tempat ibadah yang layak untuk menyembah tuhannya masing-masing. Keharmonisan dalam umat beragama akan senantiasa terjalin jika sama-sama mengerti dan memahami bahwa perbedaan itu indah. Selanjutnya, ketaqwaan disini sebagaimana agama islam mengajarkan iman, islam, ihsan kepada setiap penganutnya. Percaya dengan tuhannya, percaya dengan agamanya, dan senantiasa berbuat baik terhadap sesama.

Dari sinilah tingkat sosial yang tinggi akan muncul jika dinding penghalang tidak menjadi persoalan yang sangat vital bahkan sampai-sampai merugikan manusia yang lain. Budi pekerti yang baik, akan menghadirkan ketenangan, ketentraman, dan kesejukan dalam bermasyarakat, tentunya, dari kacamata yang mengarah pada setia kebaikan-kebaaikan yang dilakukan oleh manusia satu dengan manusia yang lainnya.

Disebutkan juga dalam maqasid syariah memaparkan terdapat lima kebutuhan pokok manusia dalam menjalani kehidupan didunia, yakni dengan menjaga agamanya, menjaga jiwanya, menjaga keturunannya, menjaga lisannya, serta menjaga hartanya. Agama yang senantiasa dijaga dengan dibaluri perbuatan-perbuatan yang terpuji dapat menimbulkan keselamatan dalam memeluk agama tanpa menjelek-jelekkan agama yang lain. Lalu, dengan kita selalu menjaga jiwa dengan selalu memperhatikan makanan dan minuman yang kita makan, memperoleh makanan atau minuman dengan cara yang halal. Kemudian kebutuhan pokok manusia yang selanjutnya yakni dengan menjaga keturunannya.

Memperhatikan silsilah keluarga yang bibit, bebet, bobotnya jelas. Dengan menghindari zina yang menyebabkan ketidakjelasan keturunan yang menjadikan syubhat. Karena hal seperti ini sebenarnya sangat-sangat diperhatikan didalam agama. Selanjutnya dari segi lisan, kita diperintahkan untuk menjaga lisan dalam mengucapkan setiap patah dua patah yang kita ucapkan, barangkali kalimat yang keluar dari lisan kita menimbulkan rasa sakit kepada sesama manusia, niscaya akan menjadi suatu permasalahan yang besar.

            Dan yang terakhir, Allah SWT mengajarkan setiap hambanya pantang untuk meminta-minta. Kesejahteraan ekonomi yang mendatangkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Bukan hanya itu, dengan kita bisa menjaga harta yang kita miliki, kita bisa membantu orang-orang yang tidak seberuntung kita.

Begitu menyeluruh Allah SWT mengatur kehidupan manusia, dalam artian menata kehidupan manusia dengan sebaik-baiknya. Perbedaan yang ada bukan menjadi ajang perdebatan. Dalih-dalih kefanatikan yang mengakar rumpun bisa diminimalisir dengan kesadaran bagi seluruh manusia apapun itu ras, suku, jenis kelaminnya,bahkan agamanya.

Ayu Sastra
Assalamualaikum. Perkenalkan nama saya Ayu Lestari, hidup di tengah-tengah sudut kota kecil yang melegenda tepatnya di Kota Lasem. Saya merupakan penulis pemula yang ingin mendedikasikan diri khususnya dibidang kepenulisan. Akun Media Sosial FB : Aeyu Loestari IG : @ayu_lestari230801 @lestari_sastra WA : 0858 - 6803 - 1099