Tembang Filosofis Sunan Kalijaga “LIR-ILIR” – Ayu Sastra

Tembang Filosofis Sunan Kalijaga “LIR-ILIR”

Lir-ilir, lir-ilir
Tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo, tak senggo temanten anyar

Bocah angon, bocah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno, kanggo mbasuh dodotiro

Dodotiro-dodotiro, kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono, jlumatono kanggo sebo mengko sore

Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane
Yo surako surak iyo


Bangunlah, bangunlah
Tanaman sudah bersemi
Demikian menghijau bagaikan pengantin baru..

Anak gembala, anak gembala panjatlah (pohon) belimbing itu
Biar licin dan susah tetaplah kau panjat untuk membasuh pakaianmu..

Pakaianmu, pakaianmu terkoyak-koyak di bagian samping
Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore..

Mumpung bulan bersinar terang, mumpung banyak waktu luang
Ayo bersoraklah, dengan sorakan iya !

Sebagai umat Islam, bangun dan sadarlah. Bangun dari keterpurukan, bangun dari sifat malas.
“Diri/pribadi” yang dalam hal ini dilambangkan dengan tanaman yang mulai bersemi dan menghijau. Terserah kita, mau tetap tidur terus dan membiarkan tanaman iman kita mati atau bangun dan berjuang untuk menumbuhkan tanaman tersebut hingga besar dan mendapatkan kebahagiaan?, seperti bahagianya pengantin baru.

“Cah angon” maksudnya adalah, setiap kita ini sebagai imam, pemimpin yang harus membawa makmumnya pada jalan yang benar. Kita sebagai si anak gembala diminta memanjat pohon belimbing, dimana buahnya memiliki gerigi lima, yang digambarkan sebagai lima Rukun Islam. Meskipun licin dan susah namun kita umat Islam harus tetap memanjatnya untuk menjalankan Rukun Islam.

Pakaian yang terkoyak, melambangkan bahwa seseorang harus selalu memperbaiki imannya agar kelak siap ketika dipanggil menghadap kehadirat-Nya. Hal terasebut mesti dilakukan ketika kita masih sehat, yang dilambangkan dengan “terangnya bulan” dan masih mempunyai banyak waktu luang.


10-06-2021

Penulis : Ahmad Baidowi

Kontributor : Ayu Lestari

Ayu Sastra
Assalamualaikum. Perkenalkan nama saya Ayu Lestari, hidup di tengah-tengah sudut kota kecil yang melegenda tepatnya di Kota Lasem. Saya merupakan penulis pemula yang ingin mendedikasikan diri khususnya dibidang kepenulisan. Akun Media Sosial FB : Aeyu Loestari IG : @ayu_lestari230801 @lestari_sastra WA : 0858 - 6803 - 1099