Teater Tobong eMak Gugat Dody Yan Masfa: Ekspresi Kegagalan Sosial Bangsa Indonesia – Ayu Sastra

Teater Tobong eMak Gugat Dody Yan Masfa: Ekspresi Kegagalan Sosial Bangsa Indonesia

(Doc. Istimewa/ayusastra.com).

REMBANG, ayusastra.com – Pertunjukan teater eMak Gugat karya Dody Yan Masfa cukup membuat raga terkatup sementara dan berpikir, apa makna perkataan yang secara berulang -ulang dalam setiap aksinya.

Pementasan teater eMak Gugat ini berlangsung selama sekitar 30 menit. Di awal waktu, kehadirannya sangat misterius, kaku, mematung dan diam seribu bahasa. Disamping itu, balutan daster lusuh berwarna kuning bermotif bunga-bunga dan sorot senter, serta gelang kricik yang disematkan di kakinya sontak menghipnotis siapapun yang melihatnya.

Ucapan yang terus berulang-ulang dan langkah kaki yang kesana kemari menghampiri beberapa pengunjung dan tempat pertunjukan menambah rasa takut namun menarik perhatian.

Jangan ketawa, Mak…

Jangan menangis, Mak…

Itu kesadaran fakultas…

Kesadaran faktur…

Kesadaran faksimili…

Kesadaran fuck you….

Kalimat itu terkesan membuat siapapun hadirin yang melihat pertunjukan seni teater ini menjadi hening, sunyi, dan berpikir. Apa arti dari kata-kata tersebut?

Tak hanya itu, ada lagi kalimat yang diulang-ulang seperti:

Orang-orang tidak pernah serius dengan kebaikan//

Tidak pernah serius dengan kebenaran//

Kita cuman main-main//

Memperolok zaman//

Memperburuk dengan kemalasan dan kesombongan…

Seraya sambil terisak sendu, ia melanjutkan:

Jangan ketawa, Mak//

Jangan menangis, Mak//

Itu kesadaran fakultas//

Kesadaran faktur//

Kesadaran faksimili//

Kesadaran fuck you

Yang menjadi persoalan adalah, kenapa harus ada kata fakultas dan faktur? setidaknya, saya mempunyai asumsi sendiri mengenai isi teater fenomenal itu. Peran seni teater dapat digunakan untuk pengamat media pendidikan, dapat diartikan sebagai perantara interaksi bagi sesama manusia sekaligus menjadi ajang refleksi di ranah sistem pendidikan yang masih terbilang bias dan problematik. Teater dikemas sebagai pertunjukan agar mahasiswa dapat mengerti sisi baik dan buruk ruang lingkup kampus lewat sebuah cerita.

Tak hanya itu, Dody menambahkan, jika Emak Gugat ini merupakan suatu bilik pertemuan. Menurutnya, bilik pertemuan adalah lingkungan natural yang dikemas secara minimalis dari kesan artifisial. Ia menuturkan, jika naskah monolog ini lahir dari masyarakat Indonesia yang mengalami patologi sosial.

Emak Gugat lahir dari kegelisahan Dody Yan Masfa pada saat itu, kebiasaan dari budaya meracau, manipulasi, kelainan seksual dan kriminal terjadi di Indonesia.

Namun, yang menjadi poin penting disini adalah ketegasan kata-kata dalam mempertajam arti kejujuran, kesadaran, dan kebenaran pada sebuah peristiwa, yang mana latar tempatnya ialah fakultas.

Fakultas merupakan bagian administratif sebuah universitas yang membawahi beberapa jurusan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Fakultas adalah bagian dari perguruan tinggi tempat mempelajari suatu bidang ilmu yang terdiri atas beberapa jurusan.

Nah, lakon seorang ’emak’ inilah yang diekspresikan seperti sedang meracau atas segala masalah yang menimpa hidupnya seperti misalnya mahalnya pendidikan.

Menurut Dody, emak merupakan analogi jiwa yang gelisah dan hadir mempertanyakan dinamika intelektual, berbudaya, bermasyarakat, kesadaran membangun peradaban turut melemah.

Emak juga seorang yang tak pandai dalam menghadapi permasalahan ini, akan tetapi ia memiliki hak dalam hal keseriusan kebaikan, kesungguhan kebenaran, orang-orang kebanyakan dimanipulasi oleh kesadaran fakultatif, faktur, faksimili.

Dalam arti luas, banyak nasehat yang kita dapat ambil dari monolog Emak Gugat. Misalnya, dalam mengevaluasi kehidupan yang tak selalu berjalan mulus. Atau, dari sebuah perjalanan hidup yang panjang, percaya ataupun tidak, sosok emak benar-benar merasakan kekhawatiran dan kecemasan. Ia harus berusaha sepanjang masa di tengah persoalan kehidupan yang rumit ini.

(Ayu Lestari)

Ayu Sastra
Assalamualaikum. Perkenalkan nama saya Ayu Lestari, hidup di tengah-tengah sudut kota kecil yang melegenda tepatnya di Kota Lasem. Saya merupakan penulis pemula yang ingin mendedikasikan diri khususnya dibidang kepenulisan. Akun Media Sosial FB : Aeyu Loestari IG : @ayu_lestari230801 @lestari_sastra WA : 0858 - 6803 - 1099