SANTRI PIONIR PEMBERANTAS INTOLERANSI – Ayu Sastra

SANTRI PIONIR PEMBERANTAS INTOLERANSI

Pengantar

Tanpa disadari, adanya sikap Intoleransi sudah kerap menghinggapi beberapa orang yang hidup di lingkungan yang serba heterogen ini, dengan adanya perubahan zaman bahkan keadaan sosial, yang menyebabkan perilaku intoleransi pada masyarakat sekitar. Lalu, apa definisi dari lntoleransi itu ? Intoleransi ialah hilangnya sikap empati kepada orang lain dengan mengabaikan beberapa nila-nilai toleransi yang masih berkaitan dengan adanya suku, ras, maupun agama. Lantas, mengapa seseorang tersebut bisa memiliki perilaku yang intoleransi? karena, adanya beberapa faktor yang mempengaruhi dan menjadikan keterlibatan seseorang yang mengakibatkan perilaku tersebut dapat hadir didalam masyarakat, seperti halnya :

1. Minimnya pengetahuan atau wawasan terkait kemasyarakatan.

Faktor ini sangatlah krusial dan utama yang mengakibatkan munculnya sikap intoleransi terhadap sesama. Jika ditarik mundur sebelumnya dengan mengamati seseorang terkait dengan latar belakang pendidikannya, kita dapat mengetahui seseorang tersebut apakah ia telah mengerti sepenuhnya tentang apa itu Intoleransi, bagaimana dampak pendek bahkan dampak panjang dari adanya intoleransi tersebut dan lain sebagainya.

2. Faktor Genetik.

Walaupun begitu, genetik juga dapat mempengaruhi seseorang itu mempunyai sifat yang intoleransi kepada masyarakat sekitar. Entah dari saudara dekatnya, atau mungkin memang dari pola asuhnya yang tanpa disadari pola asuh yang tidak sesuai dapat menciptakan sifat tersebut.

3. Ruang Lingkup Sosial.

Mengapa faktor ini dapat menimbulkan intoleransi, karena berdasarkan penelitian dari beberapa ahli penyebab intoleransi sendiri juga dipicu oleh keadaan ruang lingkup sosial seseorang. Dan memang telah terbukti adanya, masyarakat perkotaan lebih cenderung sangat individualisme daripada masyarakat yang ada di pedesaan. Walaupun memang sangat berbeda dalam segi apapun.

4. Metode Pembelajaran Yang Tidak Fleksibel

Jelas sekali, faktor dari pembelajaran yang terkesan kaku, monoton atau tidak fleksibel akan menciptakan sebuah pemikiran-pemikiran bahwa hal ini tidak bisa disamakan dengan hal yang lain. Tanpa memikirkan kembali dengan keadaan sekitar yang makin lama penduduk yang singgah ini bukan hanya dari satu kalangan agama, ras, atau suku. Padahal sudah dijelaskan didalam Al-Qur`an maupun Hadis menerangkan bahwa apabila suatu permasalahan yang tidak ada atau belum dikaji di kedua sumber tersebut, maka carilah solusi yang baik dengan melakukan metode ijma` ( sekumpulan pendapat para ulama` yang telah melalui fase mufakat ).

Apa Peran Santri Dalam Memberantas Intoleransi?

Dengan adanya beberapa faktor tersebut, tentunya terdapat seseorang yang perannya sangatlah dibutuhkan jika sudah terjadi maraknya intoleransi didalam ranah masyarakat. Siapa lagi kalau bukan para santri. Mengapa harus santri? karena santri ini merupakan seseorang yang berkepribadian yang sangat menyeluruh. Santri-santri telah diajarkan kepada sang kyai dan ibu nyai dalam menerapkan suatu ilmu, baik itu ilmu agama maupun ilmu dunia yang termasuk salah satunya dalam bermasyarakat. Peran seorang santri ini, dapat menyelaraskan dan menjadikan hubungan kemasyarakatan semakin damai dan harmonis. Dengan menerapkan sikap toleransi antar umat beragama, antar ras, bahkan antar suku sekalipun. Walaupun dalam hal itu terdapat suatu perbedaan, maka jadikanlah sebuah perbedaan itu menjadi hal yang sangat indah dan menyenangkan. Saling menghormati satu sama lain, bertetangga dengan rukun. otomatis penerapan intoleransi di masyarakat tidak akan terjadi.

Sebuah sikap apatis dengan seseorang di sekitarnya tanpa memperdulikan berbagai norma-norma toleransi dalam bermasyarakat yang akhirnya menimbulkan sikap intoleransi didalam diri seseorang. Dan tak heran, pembentukan sikap intoleransi ini menimbulkan beberapa kasus intoleransi yang ada di sekitarnya. Seperti halnya kasus intoleransi yang ada di SMAN 8 Yogyakarta, tepat pada tanggal 26 Januari 2021 yang mengharuskan siswa-siswinya yang muslim untuk mengikuti kemah di Hari Paskah, karena ada pemandangan tersebut pihak guru agama katolik dan Kristen menolak, akan tetapi penolakan tersebut tidak ditanggapi oleh pihak kepala sekolah. Hingga akhirnya, terjadi perubahan tanggal perkemahan setelah ada pembelaan penyanggahan dari pihak luar.

Dengan adanya kasus seperti itu, dalih-dalih tentang kebebasan dalam agama menyebabkan pemaksaan sepihak yang akhirnya menimbulkan ketidaknyamanan kepada siswa-siswinya yang beragama lain. Untuk itu, perlu adanya pencegahan sebuah program diskusi toleransi lintas agama. diskusi toleransi lintas agama adalah kegiatan sederhana dalam pembahasan penerapan sikap toleransi antar umat beragama dengan melibatkan seseorang yang dijadikan narasumber yang berpengaruh didalamnya, seperti pendeta gereja, pastur, pimpinan wihara, kyai, dan santri. Sumbu-sumbu penting yang dilibatkan ini, akan menciptakan suatu solusi yang dapat diselesaikan dengan lebih baik dan terjalin suatu kerukunan, baik didalam sekolah maupun di luar sekolah.

Acara diskusi toleransi lintas agama ini dapat dilakukan di sekolah, dengan melibatkan seseorang yang ada di pihak sekolah maupun di luar sekolah. Dilakukan pada hari-hari tertentu yang setidaknya tidak mengganggu keberlangsungnya jam pelajaran berlangsung. Dapat diselenggarakan di aula halaman sekolah dengan mengusung konsep diskusi sederhana terkait pemahaman tentang intoleransi, serta dampak jangka panjang intoleransi diantaranya timbulnya konflik, adanya rasa ketidaknyamanan dari pihak yang dirugikan dalam penerapan intoleransi, dan menciptakan perpecahan antar umat beragama.

Jika penerapan program tersebut dilakukan, akan jauh lebih baik dan akan memberikan suatu manfaat apabila kita menghindari sikap intoleransi. Adapun beberapa manfaat menghindari sikap intoleransi untuk kita sebagai pelajar, mahasiswa atau santri sekaligus diantaranya seperti terjalinnya kerukunan dan keharmonisan dalam beragama, timbul rasa aman dan nyaman dalam melaksanakan kegiatan ibadah, dan lain-lain.

Kesimpulan dan Penutup

Dari semua penjabaran diatas bisa ditarik sebuah kesimpulan bahwa intoleransi ialah hilangnya sikap empati kepada orang lain dengan mengabaikan beberapa nila-nilai toleransi yang masih berkaitan dengan adanya suku, ras, maupun agama. Dengan adanya pemahaman seperti itu pastinya terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi adanya intoleransi seperti minimnya pengetahuan atau wawasan terkait kemasyarakatan, faktor genetic, ruang lingkup sosial, dan metode pembelajaran yang tidak fleksibel.

Maka untuk itu, keterkaitan peran seorang santri dan intoleransi disini adalah karena santri merupakan seseorang yang berkepribadian yang sangat menyeluruh. Santri-santri telah diajarkan kepada sang kyai dan ibu nyai dalam menerapkan suatu ilmu, baik itu ilmu agama maupun ilmu dunia yang termasuk salah satunya dalam bermasyarakat. Peran seorang santri ini, dapat diberlakukan di ruang lingkup sekolah bahkan di masyarakat sekaligus guna menyelaraskan dan menjadikan hubungan kemasyarakatan semakin damai dan harmonis.

Seperti halnya kasus intoleransi yang ada di SMAN 8 Yogyakarta, tepat pada tanggal 26 Januari 2021 yang mengharuskan siswa-siswinya untuk mengikuti kemah di Hari Paskah. Dengan adanya kasus seperti itu, dalih-dalih tentang kebebasan dalam agama menyebabkan pemaksaan sepihak yang akhirnya menimbulkan ketidaknyamanan kepada siswa-siswinya yang beragama lain. Untuk itu, peran santri dilibatkan dalam program diskusi toleransi agama.

Diskusi toleransi lintas agama adalah kegiatan sederhana dalam pembahasan penerapan sikap toleransi antar umat beragama dengan melibatkan seseorang yang dijadikan narasumber yang berpengaruh didalamnya, seperti pendeta gereja, pastur, pimpinan wihara, kyai, dan santri. Dari acara tersebut terdapat beberapa manfaat dalam menghindari sikap intoleransi sebagai pelajar, mahasiswa atau santri diantaranya seperti terjalinnya kerukunan dan keharmonisan dalam beragama, timbul rasa aman dan nyaman dalam melaksanakan kegiatan ibadah, dan lain-lain.

Sebagai generasi penerus bangsa, sepatutnya kita selaku insan cendekia dapat menghindari sikap intoleransi yang menyebabkan suatu dampak buruk untuk kita terutama para pemuda. Tindakan intoleransi bukan hanya menghambat dalam hal bermasyarakat, akan tetapi juga mempengaruhi pemikiran-pemikiran yang nantinya akan berdampak dalam perpecahan bangsa sampai ke negeri kita sendiri. Dengan menerapkan pencegahan dalam memberantas intoleransi ini menjadi suatu tindakan nyata untuk menjaga keutuhan NKRI. Menjadi warga negara yang bijak dan saling toleransi, menjadikan suatu kenyamanan bagi semua pihak dalam memilih sebuah keputusannya masing-masing tanpa memaksakan kehendak, itu jauh lebih indah dan harmonis.

Daftar Pustaka

Sumber Internet :

  • Diakses dari internet tepatnya di media online, https//www.kompas.com/edu/read/2021/01/26/184625771/kumpulan-kasus-intoleransi-di-sekolah

Disusun Oleh : Ayu Lestari ( Mahasiswi STAI AL-HIDAYAT Lasem )

Ayu Sastra
Assalamualaikum. Perkenalkan nama saya Ayu Lestari, hidup di tengah-tengah sudut kota kecil yang melegenda tepatnya di Kota Lasem. Saya merupakan penulis pemula yang ingin mendedikasikan diri khususnya dibidang kepenulisan. Akun Media Sosial FB : Aeyu Loestari IG : @ayu_lestari230801 @lestari_sastra WA : 0858 - 6803 - 1099