Salah Jurusan? Basi! – Ayu Sastra

Salah Jurusan? Basi!

REMBANG – Apa kabar wahai korban salah jurusan? Baik di tingkat sekolah menengah atas maupun di jenjang perkuliahan. Perasaan menjadi semakin dilema jika sudah dipertanyakan mengenai jurusan apa yang kita pilih selanjutnya. Sangat wajar fase-fase usia remaja mengalami kebingungan dan gamang untuk memutuskan pilihan yang berharga sepanjang menimba ilmu. Kalian pernah bertanya-tanya tidak, kalau sebenarnya memilih jurusan itu cukup menyulitkan apalagi bagi anak SMA atau SMK ?

Menurut Gita Savitri Devi, youtuber yang kerap menjadi buah bibir karena pro dengan childfree ini mengungkapkan, seorang remaja itu mengalami kesulitan untuk memikirkan masa depan. Apalagi jika pilihan itu tidak tepat, maka beberapa konsekuensi harus dihadapi remaja tersebut, padahal tidak semua anak mentalnya tertata rapi sejak dini. Bahkan seingkali saran dari guru dan orang tua kurang applicable lantaran mereka tidak mengikuti perkembangan dari peluang karir yang ada di jurusan tersebut. Faktor pemicu selain ini ialah takut jika harus mengulang dari awal jika salah pilih. Padahal uang saku sama uang buat bayar UKT aja harus jungkir balik ya kan?

Kalau untuk hal ini, aku juga pernah mengalami, dan rasanya hampa hehe. Kasus klise seperti ini masih banyak terjadi, apalagi untuk siswa atau siswi yang belum tahu setelah lulus mau milih jurusan apa. Namun seringkali permasalahan seperti ini disebabkan orang terdekatnya, dimana rekomendasi jurusan harus sesuai permintaan orang tua. Entah karena tercekat biaya, atau bisa jadi pola pikIr yang sempit hanya menilai peluang lowongan pekerjaan berdasarkan jurusan yang akan diambil. Saya kasih contoh. Biasanya orang tua, baik ibu atau bapak tidak setuju jika anaknya mengambil jurusan seni, entah itu seni musik, seni sastra, seni rupa maupun lainnya. Mereka beranggapan jika masuk di jurusan tersebut nanti akan kesusahan mencari pekerjaan.

Walaupun memang terkesan fakta, namun untuk zaman seperti ini hal semacam itu sudah tidak perlu dikhawatirkan. Di satu sisi, kita juga tidak bisa menghakimi orang tua kita itu salah, karena orang tua kita rata-rata hidup di era orde baru dimana standarisasi orang sukses itu dilihat dari mendapatkan pekerjaan di ruang ber AC, memakai dasi dan  menjadi seorang pegawai negeri karena dapat gaji pokok dan tunjangan yang lain.

Kalau sudah seperti ini, kira-kira apa yang kamu lakukan? Apakah hanya dengan berdebat sampai berbuih dengan orang tua dan tetap memilih jurusan sesuai keahlianmu, atau ada cara-cara konkrit untuk bisa meraih jurusan yang diinginkan? kalau dipikir-pikir, berdebat dengan orang tua hanya membuang waktu saja dan seakan-akan kita terlihat durhaka. Bukan begitu teman-teman?

Daripada berdebat, lebih baik lakukan uji kapasitas diri, caranya cukup kalian analisis keterampilan apa yang bisa dijadikan skala prioritas kamu untuk tetap diasah, setelah itu sebisa mungkin tidak mudah terbawa arus. Artinya apa, banyak anak remaja sekarang hanya sekadar ikut-ikutan temannya. Temannya milih jurusan A, ikut ambil jurusan A. Temannya mau di jurusan X, ikut daftar di jurusan X tanpa mengukur kapasitas dirinya sendiri dan malah ikut pilihan temannya yang jurusannya tidak sesuai dengan dirimu. Kesannya jahat sama diri sendiri. Untuk itu, usahakan untuk tetap mempunyai prinsip ya.

 Kemudian, kalian bisa lakukan dengan cara menggali informasi dari jurusan yang ingin kamu incar. Stalking-stalking itu sangat diperlukan loh. Apalagi di zaman ini akses informasi sangat luas. Tidak hanya sebatas informasi pendaftaran dan cara masuk di PTN maupun PTS saja, akan tetapi coba cari bagaimana prospek kerja di jurusan tersebut, apakah jangkauannya luas atau malah terbatas. Nah, kalau versi kalian gimana?

Trik di atas khusus untuk kalian yang belum mengalami nasib salah pilih jurusan ya. Nah, kalau yang sudah terlanjur salah jurusan bagaimana?

Selesaikan walaupun terseok-seok, walaupun terkesan mengenaskan namun dengan cara menyelesaikan studi salah jurusan itu sebuah tanggungjawab kita sebagai pencari ilmu. Ingat, biaya sekolah atau kuliah itu tidak murah.dan ilmu itu mahal, mengiringi kita hingga akhir hayat. Selanjutnya kalau sudah selesai, untuk menebus dosa-dosa salah jurusan, teman-teman bisa salurkan ilmu ke orang yang membutuhkan, atau bisa juga dengan mencari pelatihan maupun kursus yang sesuai dengan keterampilanmu. Kalau versi kamu, cara untuk melampiaskan penyesalan lantaran salah jurusan gimana? Ingat sobat, dunia tidak sesempit daun kelor. Masih banyak keajaiban-keajaiban di luar sana yang mengharapkan kedatanganmu. Dan bisa jadi jalur suksesmu lewat jalur tol, bukan lewat jalur pantura. Ii wish, you can success.

Ayu Sastra
Assalamualaikum. Perkenalkan nama saya Ayu Lestari, hidup di tengah-tengah sudut kota kecil yang melegenda tepatnya di Kota Lasem. Saya merupakan penulis pemula yang ingin mendedikasikan diri khususnya dibidang kepenulisan. Akun Media Sosial FB : Aeyu Loestari IG : @ayu_lestari230801 @lestari_sastra WA : 0858 - 6803 - 1099