Pemberdayaan ruang gerak perempuan dalam kepemimpinan – Ayu Sastra

Pemberdayaan ruang gerak perempuan dalam kepemimpinan

Kepemimpinan acap kali sering didominasi oleh kaum laki-laki yang telah mengantongi norma-norma yang dipandang oleh masyarakat atau warganya. Menganggap bahwa laki-lakilah yang hanya bisa menjadi seorang pemimpin dari segala aspek yang ditekuni.

Padahal dalam arti kepemimpinan itu sendiri ialah cara pemimpin dalam mengarahkan, membimbing serta mencontohkan kepada anggotanya agar dapat diduplikasi dengan adanya harapan terciptanya suatu tujuan.Lantaran hal itu, kedudukan perempuan tergolong layak untuk menjadi sosok pemimpin dengan berdasarkan gaya kepemimpinannya.

Sekat-sekat yang dibatasi kepada kaum perempuan ini mengartikan bahwa minimnya kesadaran bahwa peranan penting yang disandangkan oleh perempuan sangatlah impulsif. Asas dalam konteks kepemimpinan bukan hanya sekedar memberi perintah dan tugas semata, akan tetapi juga merupakan suatu bentuk kerja nyata dalam konsep pembangunan pondasi bagi bangsa Indonesia untuk bergerak secara dinamis.

Agaknya permasalahan yang kerap kali dibahas ialah dari segi faktor kelamin, strata sosial, pemberdayaan yang terbudaya menimbulkan sempitnya kesempatan perempuan mengeksistensikan keberdayaannya.Kita bisa lihat tragedi dari tahun ke tahun banyaknya sejarah mencatat perjuangan perempuan dalam memperjuangkan hak, kedudukan, dan suaranya untuk disamaratakan seperti layaknya ketersediaan panggung kepemimpinan yang disajikan untuk laki-laki.

Mulai dari pemberontakan pembangunan pabrik semen di kawasan Gunung Kendeng di Kota Rembang, demonstrasi terkait gaji buruh wanita yang sangat rendah, kursi jabatan yang sangat terbatas bagi perempuan untuk berkutat di lingkup politik, dan lain sebagainya.

Sebenarnya daya potensial perempuan akan menjadi meningkat jika dibantu oleh dukungan guna memberdayakan kualitas di ranah penggerak juga terdapatnya akses-akses fasilitas yang menunjang. Dan apakah ketika perempuan menjadi pemimpin, ia akan memiliki keberpihakan kepada perempuan? Ini menjadi suatu tantangan ke depan berdasarkan bidang yang ia tekuni baik itu dari segi kultural yang menyatakan bahwa perempuan masih terbelenggu oleh paham patriarki dan minimnya porsi kepemimpinan yang disediakan dari berbagai lini.

Kerugian berdasarkan dua sudut pandang politik maupun ekonomi. Bayangkan saja dari sektor politik walaupun memang terdapat sebuah fakta keterlibatannya perempuan dalam mengaruhi dunia politik, akan tetapi perempuan hanya menjadi figura atau sebatas tambahan tanpa dilibatkan dari permasalahan-permasalahan yang bersifat objektif, sedangkan dari sektor ekonomi dengan rendahnya gaji atau upah pekerja perempuan dan beban kerja yang lebih dengan adanya perspektif perihal kodratnya sebagai perempuan.

Fakta menunjukkan bahwa semakin tinggi jabatan kepemimpinan, semakin rendah proporsi perempuan walaupun kinerja yang telah dikerahkan sudah mencapai batas maksimal, masyhurnya doktrin yang melekat pada kodrat perempuan dan norma-norma masyarakat bahwa secara kultur, perempuan hanya sebagai tambahan peran kepemimpinan.

Padahal, gaya kepemimpinan bukan dilihat dari sisi jenis kelamin tetapi dari sisi perannya ( gender ). Berperan layaknya pemimpin yang ksatria tanpa membingungkan beberapa dalih atau fatwa untuk menghalangi keberadaan perempuan dalam memimpin.

Dalam menghadapi tantangan global dalam kepemimpinan membutuhkan figure perempuan yang mempunyai daya visioner, inovatif, dan kemampuan dalam mengatur strategi kepemimpinan dan mempunyai pandangan positif terkait gender. Unsur-unsur yang dibutuhkan dalam kepemimpinan juga tidak lepas dari tiga elemen yang mendasar, yakni beretika, berestetika serta berdialektika.

Jika pedoman ini digunakan perempuan, maka selama menjalani kepemimpinan akan terasa menyenangkan dan lebih ringan. Manfaat yang diraihnya pun, perempuan dapat mengatur emosional dalam situasi dan kondisi yang berbeda, dengan begitu suatu kepemimpinan yang dijalankan oleh perempuan akan lebih rinci dan sistematis, karena perempuan terlahir oleh kepekaan yang sangat tinggi jika senantiasa dilatih secara berkelanjutan.

Ayu Sastra
Assalamualaikum. Perkenalkan nama saya Ayu Lestari, hidup di tengah-tengah sudut kota kecil yang melegenda tepatnya di Kota Lasem. Saya merupakan penulis pemula yang ingin mendedikasikan diri khususnya dibidang kepenulisan. Akun Media Sosial FB : Aeyu Loestari IG : @ayu_lestari230801 @lestari_sastra WA : 0858 - 6803 - 1099