Miris, Regenerasi Pengrajin Anyaman Bambu Hampir Punah di Desa Dadapan Sedan

Exif_JPEG_420

Tiga pengrajin anyaman bambu di Desa Dadapan Sedan, Rembang sedang asyik menganyam bambu menjadi beberapa kerajinan. (Doc. Ayu Lestari/ayusastra.com)

REMBANG, ayusastra.com – Pengrajin Anyaman Bambu di Desa Dadapan Kecamatan Sedan Kabupaten Rembang ini telah ada secara turun temurun. Walaupun begitu, pengrajin anyaman bambu ini makin lama mengalami penurunan karena generasi muda saat ini lebih memilih mata pencaharian yang lain. Senin (26/9/2022).

Latini selaku pekerja anyaman bambu mengaku, ilmu menganyam yang ia dapati dari nenek dan ibunya yang juga merupakan pengrajin anyaman bambu.

“Saya bisa menganyam seperti ini ya karena setiap hari sejak dulu sering melihat nenek dan ibu saya menganyam. Lama kelamaan saya mencoba belajar menganyam dan akhirnya bisa sampai sekarang,” kata Latini pada keterangan ayusastra.com pada saat diwawancarai di depan halaman rumahnya.

Namun, melihat perkembangan zaman yang sudah sangat modern, beliau merasa anak-anak muda enggan untuk meneruskan menganyam. Karena penghasilannya yang tidak banyak.

“Kalau setelah saya kemungkinan sudah tidak ada lagi penerusnya, soalnya anak-anak muda di daerah sini kebanyakan sudah kuliah dan mencari mata pencaharian yang lebih layak,” tandasnya.

Kendati demikian, sebenarnya kerajinan dari bambu ini sangat beraneka ragam, diantara lain ada tumbu atau tomblok, tampah dan wakul.

“Kalau pengrajin wakul kiranya tersisa hanya 6 orang. Sedangkan saya lebih sering membuat anyaman bambu berupa tumbu atau tomblok,” ungkapnya.

Anyaman bambu ini sering dipasarkan daerah Lasem, Pamotan, Tuban, Bulu, dan Sarang.

“Kalau pemasaran yang cukup ramai diminati itu ada di Pasar Tuban, karena kalau di sana kalau membeli anyaman cukup banyak sampai satu truk penuh,” terangnya.

Selaras dengan Latini, pengrajin anyaman bambu, Rasmi mengatakan hasil jerih payah penganyam tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karena satu buah anyaman cuma dijual seharga Rp 5 ribu.

“Upahnya tidak seberapa, perkiraan 3 buah anyaman cuma dapat Rp 15 ribu. Maksimal satu hari bisa buat sampai 4 buah anyaman, jadi cuma Rp 20 ribu,” ujarnya.

Biasanya para pengrajin mengawali aktivitas menganyam pukul 08.00 pagi sampai 16.00 sore. Itupun jika tidak terhambat oleh pekerjaan rumah yang lain.

“Ya kalau tidak repot dengan pekerjaan rumah yang lain bisa sampai buat 4 anyaman, kalau repot ya paling cuma dapat 2 anyaman,” pungkasnya.

Ayu Sastra
Assalamualaikum. Perkenalkan nama saya Ayu Lestari, hidup di tengah-tengah sudut kota kecil yang melegenda tepatnya di Kota Lasem. Saya merupakan penulis pemula yang ingin mendedikasikan diri khususnya dibidang kepenulisan. Akun Media Sosial FB : Aeyu Loestari IG : @ayu_lestari230801 @lestari_sastra WA : 0858 - 6803 - 1099