MENJAGA MAAF – Ayu Sastra

MENJAGA MAAF

Maaf. Sadar atau tanpa sadar kata maaf dalam menggaungkannya mungkin selalu paling mudah terucap oleh kita. Dari kesalahan sepele hingga menjadi kesalahan yang fatal. Pada hari biasa, hingga tiba momen penantian usai satu bulan berpuasa, yaitu hari kemenangan, Hari Raya Idul Fitri.

Lalu, apa cukup sampai disitu? Seakan maaf kian hilang makna. Tanpa tindak lanjut berupa intropeksi, perubahan, tanggungjawab atau solusi dari suatu permasalahan. Serendah itu kah makna maaf? Entahlah.

Setiap manusia akan memetik setiap apa yang ditanam mungkin jadi peribahasa usang, haus makna, menguap entah berantah. Saat kita menghadapi realitas zaman, misalnya tanggung jawab lebih sering cukup diartikan dengan makna sempit. Sudah cukup dengan kata maaf, usai! besok lusa, kejadian yang sama, biasa terjadi.

Niat berubah yang bisa saja terbit menggebu-gebu tatkala kata maaf baru terucap seolah mimpi siang buta. Mungkin memang biasanya motivasi mengakui ketidakbaikan dan semangat perubahan biasanya hadir saat kondisi psikologis terpuruk. Atau barangkali mengulik hakikat dari sifat manusia tak ada yang sempurna. Maka setiap insan butuh teman sebagai pengingat dalam kebenaran-Nya. Seperti Nabi Harun untuk Nabi Musa. Bunda Khadijah untuk Nabi Muhammad SAW. Ben & Jody di film Filosofi Kopi.

Bagi objek yang menunggu maaf. Terlalu lama hidup dalam kebencian, ketidaksukaan, kekecewaan, ketidakenakan, penyesalan, kesedihan, dan kemarahan memanglah kurang baik, apalagi untuk kesehatan fisik dan mental jangka panjang. Duka itu sunatullah, baik demi keseimbangan agar mampu bijak memahami sekian rasa dan mengelolanya dengan tepat. Jadi boleh berduka, tapi usahakan tidak berlarut-larut memelihara emosi negatif.

Namun ironisnya, realita bagi karakter tertentu tentu ada yang susah melupakan rasa yang tak enak, mungkin saja bersifat prinsipil. Sebab cara pandang tiap orang berbeda-beda dan tidak ada manusia yang tahu persis mengenal orang lain dan memahami sejauh mana batas toleransi seseorang terhadap sesuatu. Hal yang mempengaruhi susah melupakan antara lain, pemahaman minim tentang agama. Manajemen emosi. Egois meyakini sudah baik, dan cukup apa adanya tanpa niat perubahan. Ada pula yang mudah kesal dan hilang kesabarannya ketika sesuatu terjadi berulang, lalu menurutnya memaafkan mudah dibandingkan memberi memberi kepercayaan kembali, tidak layak dipercayai kembali alias dan berkurang rasa pedulinya.

Barangkali manusia memang dididik untuk lebih banyak menghafal, daripada belajar memahami hakikat sesuatu. Contoh kecil sekian pelajaran sekolah dasar hingga masa kampus. Dari sekian yang kita pelajari. Tuntutan menghapal sekian rumus matematika, misalnya. Bandingkan dengan yang bisa di praktekkan di dunia nyata, menghadapi dunia kompleks. Seakan pelajaran menghapal atau cukup berteori itu sia-sia untuk mampu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, budaya menghafal lebih ditekankan daripada memahami.

Waktu yang kian silih berganti, dunia berubah, banyak orang pun boleh jadi ikut berubah menuju lebih baik. Semua orang punya emosi dan layak menjadi hak tiap individu. Jika menengok perempuan dengan ketidakstabilan emosi masih tertambat dan lebih suka menggunakan otak kanan dengan daya sensitifitasnya. Diharapkan dapat memberi maaf atau menerima maaf, lalu mau belajar (tetap) menjaga hubungan lewat bersikap baik sesuai batas kewajaran, sewajarnya meskipun bila dengan rasa sesakit apapun yang masih tertinggal.

Oya, bukankah Tuhan tak pernah tidur? Merambat pelan atau berlari kencang, Tuhan punya waktu sendiri menunjukan kebenaran dan setiap orang akan menuai apa yang tertanam. Baik atau buruk. Bersyukurlah bagi yang masih mampu intropeksi sebagai subjek peminta maaf atau penerima maaf. Sebagai apa pun dan bagaimanapun tanpa membedakan jenis kelamin.

Memperoleh setiap yang baru atau kesenangan sesaat mungkin sangat mudah. Lebih sulit adalah bertahan dalam kebaikan. Bagaimana menjaga setiap hubungan (universal) yang telah lama dibangun dengan menyederhanakan ego (rasa).

Mungkin memang salah satu hal tersulit dari diri kita ialah menjaga. Iya, menjaga orang-orang yang pernah kita kenal dan hadir mewarnai hidup, sekalipun jika tak menyimpan momen penuh keseruan tapi bernilai untuk pendewasaan. Sekalipun jika tidak meninggalkan ikatan jiwa mendalam dan memori kuat. Atau, sekalipun jika tak meninggalkan akhir yang baik.

Menjaga maaf..

Menjaga hati kita agar berbesar hati dan berjiwa besar untuk menggaungkan kedamaian. Bukan saja damai secara yang tersirat atau lisan. Namun, berdamai dengan diri sendiri, lalu dengan sebenar-benarnya hati berdamai dengan orang lain atau keadaan. Menjaga maaf  agar tak sekadar simbolitas pada waktu tertentu.

Memang meski wajar bila tak sempurna selalu mudah dipraktekkan di dunia nyata, terlebih lagi dalam pengamalan tingkatan yang lebih tinggi, yaitu ikhlas. Namun, kabar baiknya jika sudah baik (kokoh) penerimaan kita pada diri. Memaafkan dan  menerima diri dengan seutuhnya. Selanjutnya akan lebih mudah menerima dan memahami orang lain. Dari diri maka akan menyebar ke sekitar. Insya Allah atas izin-Nya.

Menjaga tanggung jawab yang tidak semua orang berani mempertanggungjawabkan (minimal pada diri) apa yang menjadi kekeliruan. Berdiri tegak menghadapi segala resiko dari setiap pilihan. Hanya yang berjiwa ksatria yang mau bertanggungjawab meminta maaf dan mempertanggung jawab bukti maaf. Pemilik hati kuat yang rela memberi maaf meski bila aplikasinya berproses. Serta pemilik hati lapang seluas samuderalah yang (tetap) sanggup bersikap baik kepada orang yang pernah melukai.

Menjaga. Sesuatu yang diberikan Tuhan untuk kita jaga, apa yang Tuhan takdirkan, menghargai atas hidup masing-masing, lewat penerimaan. Alangkah indah bila kekokohannya dibangun dengan prinsip baik untuk hidup saling bersaudara di atas perbedaan.

Bersikap ramah atau bersikap lemah lembut bukanlah hal yang mustahil. Semoga dengan berbagai cara apapun dalam menjalani hidup, kita harus mampu mempertanggung jawabkan secara dewasa. Yang dengan sendirinya terbentuk oleh waktu dan dinamika.

Menjaga itu adalah bagian dari konsep sabar dan syukur dari Tuhan. Menjaga untuk meminta maaf dan memaafkan. Yuk, mari kembali bercermin dengan nurani masing-masing. Kita bisa hidup damai dalam balutan perbedaan.

Tentang Penulis:

Penulis Rdt_Prosais ini berasal dari Kota Bima, NTB. Ia lahir di bulan perjuangan Agustus. Ia hanya pejuang hidup yang sedang dalam fase berkutat dengan kesibukannya sebagai istri sekaligus aparatur sipil negara di sebuah daratan Pulau Flores, NTT. Penulis bisa dihubungi di akun Instagram @rdtrosdianatohira.

Editor : Ayu Lestari ( Founder Lestari_Sastra )

Ayu Sastra
Assalamualaikum. Perkenalkan nama saya Ayu Lestari, hidup di tengah-tengah sudut kota kecil yang melegenda tepatnya di Kota Lasem. Saya merupakan penulis pemula yang ingin mendedikasikan diri khususnya dibidang kepenulisan. Akun Media Sosial FB : Aeyu Loestari IG : @ayu_lestari230801 @lestari_sastra WA : 0858 - 6803 - 1099