Menjadi Ciri Khas, PC PMII Pati Adakan Sekolah Pemberdayaan Desa Bagi Pionir-Pionir Perubahan – Ayu Sastra

Menjadi Ciri Khas, PC PMII Pati Adakan Sekolah Pemberdayaan Desa Bagi Pionir-Pionir Perubahan

RAMAI: Acara sekolah kader pemberdayaan desa PC PMII Pati diikuti oleh kader-kader PMII dua provinsi sekaligus.

Rembang, ayusastra.com – Peserta yang mengikuti Sekolah Kader Pemberdayaan Desa (SKPD) yang diselenggarkan oleh Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Pati sebanyak 26 kader. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dari berbagai macam Pengurus Cabang (PC) yang diselenggarakan di Balai Desa Bakaran Wetan Kecamatan Juwana Kabupaten Pati selam 2 hari ( 29 januari – 30 januari 2022 ). Dimulai dari provisi jawa tengah dan 2 dari perwakilan kader PMII dari Tuban, Provinsi Jawa Timur.

Ketua Panitia, Arif Suharyoso, S.H mengatakan bahwa kegiatan sekolah kader pemberdayaan desa merupakan inisiasi baru dari PC PMII Pati untuk menyiapkan kader-kader yang ada di PMII supaya memiliki rasa cinta kembali terhadap desa, karena selama ini yang kita lihat kader PMII konsentrasinya ialah untuk politik-politik atas. Selasa (1/2).

“PC PMII Pati berdiskusi untuk berpikir bagaimana caranya kita mengembangkan kader-kader pmii yang ada itu tidak hanya berorientasi pada politik-politik atas, tapi sudah melihat kondisi antar rumpun di desa. Ini merupakan wujud pergerakanPC PMII Pati untuk menyebarkan virus-virus baru virus-virus kadr pmii yang bisa mewarnai desa. Inilah yang menjadi Latar belakang dari acara tersebut.”Tandas Arif.

Oleh karena itu, pihak PC PMII Pati meneruskan dari kegiatan Sekolah Kader Pemberdayaan Desa (SKPD) tahun lalu serta belajar dari SKPD kemarin kemudian muncullah SKPD kedua untuk tahun ini.

“Saya sangat berterima kasih teruntuk dari pihak desa yang telah memfasilitasi kami dalam menyelenggarakan acara SKPD ini, yang mana kepala Desa Bakaran Wetan adalah alumni kader PMII PC dari UIN Walisongo Semarang rayon syariah yang berumur 29 tahun sudah menjadi kepala desa sehingga ini menjadi semangat buat kader-kader untuk mengarungi kehidupan di desa. Dijaga semangat supaya ilmunya bisa ditangkap dan diimplementasikan nanti ketika sudah di PC atau di desanya.” Lanjutnya.

Ketua Umum PC PMII Pati, Sahabat Ahmad Rifa’I S.H berharap kepada sahabat-sahabat yang mengikuti SKPD ini sampai besok, bisa dimanfaatkan.

“Tolong untuk semua kader, ilmu yang disampaikan narasumber bisa mulai diterapkan terutama di desa. Ilmu bukan hanya sekedar ilmu, akan tetapi ilmu diinformasikan menjadi sebuah amal pergerakan. gerakanya sahabat-sahabat memilih tema berani mengabdi di desa artinya kita ingin sahabat-sahabat menjadi pelopor yang pergerakan, pelopor pelopor pembangunan di sektor paling bawah yaitu di desa.” Terangnya.

Bapak Abdul Majid, S.Pd. Selaku Sekretaris Kepala Desa sangat mengapresiasi terkait terselenggaranya acara ini sampai besok sekaligus meminta maaf apabila fasilitas yang diberikan tidak dapat memenuhi kebutuhan kader-kader PMII yang mengikuti pelatihan Sekolah Kader Pemberdayaan Desa (SKPD).

Dr. Ahmad Choiron, M.Ag Mabincab PMII Kabupaten Pati menceritakan tentang banyaknya peristiwa kepala desa khususnya di jabar melakukan tindakan korupsi karena oknumnya tidak pernah mengikuti pelatihan seperti ini. Ketika hamper 600 lebih juta uang dimakan sendiri gara-gara tidak ada pendamping kepala desa.

“Bahasanya agenda ini ada kata-kata sekolah. Sebenarnya saya kurang setuju. Karena sekolah ada aturannya kalau pelatihan tidak ada aturannya. Jadi substansi dari pelatihan ini memang sahabat dipersiapkan untuk menjadi pendamping-pendamping kepala desa yang berkualitas baik secara ilmu dan mengimplementasi semua program-program perencanaan dala memberdayakan desa. Sangat prihatin sekali melihat perilaku kepala desa yang tidak memanfaatkan dana desa (DD) dengan baik, karena kurangnya kuliah atau pelatihan terkait pemberdayaan desa seperti ini disertai dengan maraknya pendidikan kades yang hanya berpendidikan minimal SLTA sederajat.” Jawabnya.

Hanya memikirkan bagaimana calon kepala desa tersebut membeli suara rakyat dengan menaikkan harga suaranya berharap agar dipilih. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan ada beberapa kepala desa yang tidak menggunakan uang untuk dijadikan sebagai umpan dalam membeli suara rakyat tetapi karena masyarakat sebelumnya sudah mengetahui karakter dari calon tersebut.

Tapi sangat jarang, kepala desa yang seperti itu. Beliau berharap dengan adanya sekolah atau pelatihan seperti ini bisa menjadi bekal kader untuk mengabdi dan memperbaiki pemerintahan yang kurang baik di desanya masing-masing.

Ayu Sastra
Assalamualaikum. Perkenalkan nama saya Ayu Lestari, hidup di tengah-tengah sudut kota kecil yang melegenda tepatnya di Kota Lasem. Saya merupakan penulis pemula yang ingin mendedikasikan diri khususnya dibidang kepenulisan. Akun Media Sosial FB : Aeyu Loestari IG : @ayu_lestari230801 @lestari_sastra WA : 0858 - 6803 - 1099