Meneladani Perilaku “Hubbul Fuqoro Wal Masakin” Dalam Diri KH. Ma’shoem Ahmad dan Nyai Hj. Nuriyyah Ma’shoem – Ayu Sastra

Meneladani Perilaku “Hubbul Fuqoro Wal Masakin” Dalam Diri KH. Ma’shoem Ahmad dan Nyai Hj. Nuriyyah Ma’shoem

21 Dzulqo’dah, bertepatan 21 Juni 2022 hari Selasa pagi setelah subuh di lingkungan maqbaroh Auliya’ Masjid Jami Lasem, merupakan haul Simbah Nyai Hj. Nuriyyah Ma’shoem yang ke 40. Kegiatan di mulai dengan khataman Al Qur’an, tahlil, dan Tadzkiroh (Mauizhoh) dari cucu beliau KH. Abah Zaim Ahmad (Pengasuh PP Al Hidayat Kauman Lasem). Dihadiri oleh keluarga Bani Ma’shoem, santri santri, dan masyarakat sekitar menjadikan acara haul pagi tadi begitu khidmat.

Nyai Nuriyyah nama yang diberikan kepada beliau saat lahir, beliau adalah putri dari KH Zainuddin bin Ibrahim bin Baidlowi Awal. Sebuah adat bagi orang zaman dulu mengganti namanya ketika sepulang dari haji, seperti halnya suami beliau Simbah KH Ma’shoem Lasem yang semula bernama Muhammadun di ganti menjadi Ma’shoem dan masyhur hingga saat ini. Lain halnya dengan beliau, sepulangnya dari haji nama beliau diganti menjadi Khoiriyah. Karena ada suatu hal nama masyhur beliau adalah nama aslinya yaitu Nyai Nuriyyah berkebalikan dengan Mbah Ma’shoem. Lahir di tahun 1895 dan tutup usia pada tahun 1983 dalam usia kurang lebih 88 tahun, hal ini sama dengan putri beliau Nyai Hj. Azizah Ma’shoem yang tutup usia di umur 88 tahun. Perjuangan selama hidupnya masih terasa hingga saat ini terkhusus bagi orang yang pernah hidup sezaman dengannya.

Merasakan kehadiran beliau walaupun sudah bahagia di alam yang berbeda. Banyak dari para santri dan keluarga bahkan masyarakat yang sampai saat ini merindukan sosok beliau. Beliau pandai merangkul agar semua bisa merasakan dari syariat Islam. Menghargai adat yang ada merupakan cara dakwah beliau untuk menyebarkan agama Islam. Mengikuti jejak para ulama terdahulu dan Salafuna Sohlih beliau mengajak dan mengajarkan agama dengan baik juga santun. Ke Istiqomah-an beliau setiap jum’at pagi mengajak santrinya untuk nyambangi atau menjenguk orang yang sakit serta membagikan shodaqoh, menjadi implementasi beliau dari hak hak bagi muslim terhadap saudara muslim lainnya.

Maziyah / Keistimewaan

Berkat cinta dari keistiqomahan beliau mendapat keistimewaan menjadi orang Alim dimulai dari diajarkan tafsir oleh suami beliau hingga mengajar tafsir kepada para santri. Pernah bertemu langsung dengan Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam. Suatu ketika kakak beliau KH Fathurrahman yang pernah hidup bersama di Ndalem Kasepuhan Al Hidayat, tepatnya di Jalan Gambiran Soditan Lasem melihat beliau yang gugup berpakaian bersih, rapih, dan wangi karena akan ada tamu, tapi belum diketahui siapa tamunya. Saat sang suami pergi ke jeding (kamar mandi) disaat itulah tamunya datang dan ia adalah Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam.

Sang kakak bergegas memanggil Mbah Ma’shoem yang berada di kamar mandi tadi dan mengabarkan bahwa tamunya adalah Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Mendengar panggilan itu segera keluar dan hendak menemui akan tetapi Nyai Nuriyyah yang berada di Ndalem tinggal sendirian tak ada siapapun. Bercerita dan dibuktikan dengan tangannya yang masih harum tapi bukan wangi dari minyak yang beliau pakai. Suatu keistimewaan bagi umat muslim bisa bertemu langsung dengan Baginda Rasulullah Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam.

Diriwayatkan bahwa memiliki kebiasaan membaca sholawat yaitu sholawat nariyah. Simbah KH Ma’shoem pernah ditanyai mengenai nariyah, ” Mbah, sholawat e jenengan kok mboten ngagem alladzi padahal Mbah Putri ngagem alladzi ” dijawabnya “nek dungo jaluko Mbah Putri (Nyai Nuriyyah) tapi urusan nariyah mandi (mustajab) aku”.

Selain hubbul fuqoro’ wal masakin beliau juga suka bepergian silaturahmi. Silaturahmi kepada para santri, kolega, dan lainnya. Ketika bertamu selalu di minta untuk berdoa bagi tuan rumah. Do’a yang selalu beliau baca adalah do’a akasah. Do’a akasah juga sering beliau ijazah kan, tapi untuk ijazah beliau berbeda-beda, ada yang menerima dengan cukup dibaca 1 kali, 3 kali, 7 kali, bahkan 11 kali.

Itulah setetes dari lautan tentang Nyai Nuriyyah. Semoga berkah dari hormat haul beliau Simbah Nyai Hj. Nuriyyah ini bisa menjadikan kita lebih semangat beribadah dan terus meningkatkan keimanan kita. Semoga para santri dan murid yang sedang mengaji dan belajar diberikan kemudahan juga ilmu yang bermanfaat fiddin waddunya wal akhiroh. Amin ya Robbal Alamin.

Penulis: M. Fajrun Najah (Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa STAI Al-Hidayat Lasem)

Ayu Sastra
Assalamualaikum. Perkenalkan nama saya Ayu Lestari, hidup di tengah-tengah sudut kota kecil yang melegenda tepatnya di Kota Lasem. Saya merupakan penulis pemula yang ingin mendedikasikan diri khususnya dibidang kepenulisan. Akun Media Sosial FB : Aeyu Loestari IG : @ayu_lestari230801 @lestari_sastra WA : 0858 - 6803 - 1099