Lato-Lato Dengan Segala Kontroversinya – Ayu Sastra

Lato-Lato Dengan Segala Kontroversinya

foto (istimewa)

REMBANG, ayusastra com – Mainan lato-lato saat ini sangat digemari anak-anak zaman sekarang. Mainan tersebut mempunyai ciri khas yang berbentuk bulat, dengan beragam warna beserta lilitan tali diatasnya untuk mengaitkan kedua bola tersebut. Suara melengking yang berbunyi “tek-tek” atau “tok-tok” ini dihasilkan dari benturan kedua bola.

Walaupun begitu, efek bising yang ada dapat mengganggu suasana orang lain. Misal, seperti orang yang sedang sakit gigi, pasti akan terganggu oleh suara tersebut. Sudah nyeri, ditambah pusing. Bisa-bisa orang tersebut akan naik pitam selaras dengan memuncaknya rasa sakit yang diderita.

Sebenarnya , lato-lato adalah mainan dari zaman dahulu. Tepatnya di era tahun 70 an masyarakat Indonesia telah mengenal mainan tersebut. Ada yang menafsirkan, jika lato-lato dahulunya merupakan alat yang dijadikan sebagai simbol suara tanda bahaya yang mengancam wilayah desa setempat.

Entah dari mana dan bagaimana lato-lato bisa meledak di tahun ini yang pasti kehadiran lato-lato menimbulkan efek positif bagi anak-anak yang sekarang lebih sering bermain gawai, daripada bermain dengan teman sebayanya. Berikut beberapa dampak positif kehadiran lato-lato bagi anak-anak:

Pertama, melatih konsentrasi. Banyak orang tidak terlalu tahu tentang hal sepele seperti ini. Jika dilihat secara langsung, untuk memainkan lato-lato harus konsentrasi agar kedua bola tersebut imbang dan saling berbenturan, alhasil akan menimbulkan suara nyaring.

Kedua, melatih kepercayaan diri. Kenapa main lato-lato bisa dikatakan memicu rasa percaya diri? Karena apabila si anak tersebut mahir memainkannya, otomatis ia akan memamerkan pertunjukan dalam memainkan lato-lato di depan teman-temannya. Hal tersebut menjadi pemicu utama anak yang bermain lato-lato dapat meningkatkan rasa ‘confident’ dari dalam dirinya.

Ketiga, tidak gampang putus asa. Seringnya berlatih karena gagal bermain lato-lato, tidak membuat rasa candu untuk memainkan permainan sederhana tersebut. Malahan, anak berusaha untuk bagaimana supaya ia bisa memainkan lato-lato dengan lincah.

Keempat, empati. Ibu-ibu zaman sekarang mungkin sedikit menurunkan rasa khawatir kepada sang anak karena dengan mengenal lato-lato setidaknya kehadiran gawai dikehidupan anak tidak terlalu intens.

Kelima, irit biaya. Harga lato-lato yang sangat ramah dikantong ini juga setidaknya meringankan pengeluaran bagi kedua orang tuanya, dan uang tersebut bisa dialihkan untuk keperluan yang lain. Walaupun begitu, ada juga kok efek buruk dari keseringan bermain lato-lato. Antara lain:

1. Tak acuh kepada lingkungan sekitar.

Keseringan dan kecanduan bermain lato-lato menjadikan kebisingan bagi orang yang ada di sekitarnya karena suara melengkingnya tersebut.

2. Tak ingat waktu.

Tak terasa anak menghabiskan waktunya hanya dengan bermain lato-lato. Alhasil, kegiatan yang lain seperti sekolah, mengaji, mandi, makan, sering kali tidak diindahkan. Jadi, bagi orang tua yang budiman, harus selalu mengingatkan kepada sang anak untuk tidak lalai dengan aktivitas yang lain.

Jika diulas kembali, mengapa hanya lato-lato saja yang bisa kembali bangkit dikenal di masa sekarang. Apa kabar dengan berbagai mainan tradisional yang lain? Ada yang tahu? Apa saja permainan tradisional jadul tersebut? yap, diantaranya ada:

A. Lompat tali

Permainan ini hanya membutuhkan puluhan gelang yang biasanya dipakai untuk membungkus nasi. Biasanya, awal membentuk tali supaya panjang adalah dengan cara mengaitkan satu gelang ke dua jempol ibu jari kaki. Setelah itu, gelang selanjutnya di talikan ke gelang pertama. Begitupun untuk gelang-gelang yang lain. Teknik bermainnya pun sangat sederhana. Cukup minimal ada 5 orang atau lebih, setelah itu ‘hompimpa’ untuk menentukan siapa yang bakalan memegang ujung tali tersebut sebanyak dua orang. Lalu, bermainlah dengan riang gembira. Julukan tingkatan ukuran tali bermacam-macam, sesuai daerah masing-masing. Jika di wilayah Jawa Tengah, biasanya dimulai dari sak kemiri, sak dengkul, sak udel, sak sirah, sak kil, merdeka. (Merdeka ini merupakan julukan tingkatan tertinggi dari permainan lompat tali).

B. Betengan

Betengan merupakan permainan yang lumayan kuno. Walaupun tak sekuno lato-lato. Betengan hadir di era 90 an, dimana cara bermain betengan ialah harus mengumpulkan minimal 10 orang untuk bermain, setelah itu untuk menentukan siapa yang harus menjaga lingkaran pertahanan. Biasanya alat yang digunakan berupa kepingan genteng dari tanah liat atau papan yang berbentuk kotak yang bisa disusun. Regu yang menang, akan memulai permainan tersebut dan salah satu tim harus melempar untuk menghancurkan tumpukan itu. Setelah berhasil menghancurkan kepingan genting atau papan kotak, pelempar harus berlari menuju pos satu ke pos yang lain dan akhirnya bisa pulang ke kandang tim.

C. Rambatan

Rambatan, berasal dari kata ‘rambat’ yang artinya menyentuh, menyebar, memegang, menggenggam. Syarat permainan tersebut harus menyentuh apapun tanaman yang ada di sekitar. Jika tidak, otomatis akan dikejar dari pihak lawan. Apabila tertangkap, akan kalah dan mengganti posisi sang lawan. D. Delikan (Petak Umpat) Permainan ini mungkin masih ada disekitar perkampungan. Permainan ini cukup dengan hanya mengumpulkan dua orang atau lebih. Salah satu pemain harus menjadi orang yang mencari teman yang sedang mengumpat.

Jika teman yang mengumpat tertangkap, maka dia harus bergantian sebagai pencari temannya yang sedang mengumpat. Apapun mainan tradisionalnya, yang terpenting baik dari pihak anak maupun orang tuanya bisa bijak untuk mengatur waktu bermain. Oleh karena itu, untuk saat ini lato-lato lah puncak dari re-eksistensi mainan zaman dahulu.

Ayu Sastra
Assalamualaikum. Perkenalkan nama saya Ayu Lestari, hidup di tengah-tengah sudut kota kecil yang melegenda tepatnya di Kota Lasem. Saya merupakan penulis pemula yang ingin mendedikasikan diri khususnya dibidang kepenulisan. Akun Media Sosial FB : Aeyu Loestari IG : @ayu_lestari230801 @lestari_sastra WA : 0858 - 6803 - 1099