Koruptor Vs Pencuri, Apa Yang Membedakannya?

Sumber Gambar: Semarang.ayoindonesia.com

lemahnya etika moral dalam bidang sosial politik pada masa pandemi seperti ini yang menimbulkan beberapa kerugian untuk negara dan masyarakat, lalu muncul sebuah fatwa dengan berbagai asumsi seperti halnya sebagai konspirasi, bisnis dan sensasi semata. sampai-sampai kondisi yang keos ini membuat para penyair atau penulis tergugah dalam pembentukan komunitas untuk memberantas tindakan korupsi di masa pandemi.

Dan beruntungnya sebagai penyair menduduki posisi sebagai gerakan moral untuk para pelaku. Walaupun hanya berupa tulisan yang begitu banyaknya tafsiran yang tersirat maupun tersurat itu dapat membuka celah untuk menggerakkan hati para pencuri, mungkin saja.

Dari beberapa alasan yang diuraikan, sepertinya sangat janggal jika aspek keimanan dalam keagamaan tidak dikupas secara cermat. Jika diejawantahkan dalam perspektif agama, mungkin sang mempunyai kuasa atas kedudukan maupun jabatan tersebut mengesampingkan perihal pilar keimanan.

Apakah sejatinya perilaku yang tak terpuji itu walaupun sebesar biji sawi tidak akan diperhitungkan? Apakah ia berfikir bahwa tindakan yang tidak diketahui banyak orang akan lolos begitu saja jika dihapan Tuhan? Tentu saja tidak.

Lantas, adakah tindakan pemulihan pada sistem pemerintah Indonesia dalam menuntaskan terkait miskinnya etika moral bagi orang yang berintelektual dan mempunyai kekuasaan dalam tindakan korupsi? Jika ada dan direncanakan, saya ingin melihat dan mengamatinya, serta apa bedanya julukan koruptor dan pencuri. Apa yang membedakannya? Dari segi kastakah? atau dari segi tingkatan sosialnya?.

Penulis: Ayu Lestari

Ayu Sastra
Assalamualaikum. Perkenalkan nama saya Ayu Lestari, hidup di tengah-tengah sudut kota kecil yang melegenda tepatnya di Kota Lasem. Saya merupakan penulis pemula yang ingin mendedikasikan diri khususnya dibidang kepenulisan. Akun Media Sosial FB : Aeyu Loestari IG : @ayu_lestari230801 @lestari_sastra WA : 0858 - 6803 - 1099