Growth Mindset Vs Fixed Mindset, Kalian di Tim Mana? – Ayu Sastra

Growth Mindset Vs Fixed Mindset, Kalian di Tim Mana?

Sumber gambar : pixabay.com

REMBANG, ayusastra.com – Punya prinsip hidup yang unik dan progresif itu menjadi suatu nilai tambahan bagi diri sendiri. Apalagi hidup di zaman serba canggih dan cepat seperti ini kalau tidak mempunyai dasar pemikiran yang kokoh dan teguh, bisa saja kita cepat terpengaruh oleh pemikiran orang lain. Dan itu belum tentu sesuai dengan perspektif kamu. Ya, kamu, Benar kan?

Mengingat soal prinsip, kita tidak akan lepas dari cara sudut pandang yang notabene dilakukan secara intim dalam berkomunikasi, sehingga terciptanya suatu pergerakan nyata yang minimal merubah diri sendiri untuk lebih baik atau berkembang .

Kata Growth dikutip dari kamus lengkap inggris-indonesia berarti pertumbuhan, perkembangan manakala, kata mindset terdiri dari dua kata, Mind dan Set. Kata “mind” berarti “sumber pikiran atau memori iaitu pusat kesedaran yang menghasilkan pemikiran, perasaan, ide, persepsi yang menyimpan pengetahuan dan memori.

Kata “set‟ berarti mendahulukan peningkatan kemampuan dalam sesuatu kegiatan atau dalam keadaan yang utuh.

Menurut Dr. Ibrahim Elfiky, mindset atau pola pikir adalah sekumpulan pikiran yang menjadi berkali-kali di berbagai tempat dan waktu, serta diperkuat dengan keyakinan dan proyeksi, sehingga menjadi kenyataan yang dapat dipastikan di setiap tempat dan waktu yang sama (Satria, 2015).

Menurut Gunawan dan Irwan mindset adalah posisi atau pandangan mental seseorang yang mempengaruhi pendekatan orang tersebut dalam menghadapi suatu fenomena. Mindset terdiri dari seperangkat asumsi, metode, atau catatan yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok yang tertanam dengan sangat kuat.

Mindset bagi Gunawan adalah kepercayaan yang mempengaruhi sikap seseorang, sekumpulan kepercayaan atau suatu cara berpikir yang menentukan perilaku dan pandangan, sikap dan masa depan seseorang (Irwan, 2013).

Namun, mindset sebenarnya lebih mirip dengan sebuah kepercayaan atau doktrin yang tertanam di otak dan juga mindset banyak dipengaruhi lingkungan (Satria, 2015).

Karena itu, apakah yang disebut mindset berkembang?

Sikap cara berpikir seseorang dengan penuh percaya diri dan optimis untuk berkembang dan mau belajar dari beberapa pengalaman, kesalahan dari dirinya sendiri maupun dari orang lain untuk menjadikan insan tersebut lebih terbuka pemikirannya dalam menganalisis hal-hal baru di sekitar.

Selaras dengan pernyataan di atas, adapun karakteristik orang yang memiliki growth mindset yang perlu kalian ketahui. Apa saja itu?

Pertama, bisa dikembangkan. Ya, betul sekali. Mindset itu lambat laun mengalami perkembangan secara berkala. Apalagi kalian sering berinteraksi dan bekerja sama dengan orang lain yang pastinya memiliki ilmu dan pengalaman berbeda.

Kedua, selalu ingin belajar. Orang yang mau belajar dari kesalahan, trauma, pengetahuan, pengalalaman, kritik pedas dari orang lain, akan memudahkan kita untuk dapat memahami maksud dan pendapat dari orang lain.

Pemilik growth mindset akan dapat membedakan apakah kritikan tersebut mendidik atau sekedar cacian. Itu menjadi senjata ampuh bagi seseorang yang mempunyai pola pikir yang berkembang untuk sukses di hidupnya.

Walaupun begitu, kita tidak bisa langsung mengabaikan jenis-jenis mindset yang lain diantara fixed mindset, dan digital mindset. Kalau fixed mindset itu, kebalikannya dari growth mindset.

Fixed mindset atau pola pikir tetap ini mengalami keterbatasan dalam mengelola sikap, daya tangkap tanpa adanya usaha yang lebih baik untuk kapasitas diri. Intinya, ya sudah. Kalau aku sudah bisa berenang, tidak usah harus bisa memanah. Kurang lebih seperti itu.

Rasa ingin tahu yang minim, dapat mempengaruhi keliaran daya kritis berpikir anak secara luas. Liar dalam konteks ini tidak merujuk ke hal yang “negatif” ya. Akan tetapi pembohong disini yaitu menggali lebih jauh tentang prahara yang belum ia mengerti dan itu menarik perhatian seseorang untuk terus dikupas secara berkelanjutan.

Berdasarkan kutipan laman dari student.binus.ac.id, seorang yang memiliki fixed mindset biasanya memiliki sifat menolak tantangan baru, menganggap kerja keras sebagai sesuatu yang sia-sia dan tidak senang menerima kritik. Kalau ada orang yang lebih hebat menjadi sangat sinis dan menganggap sebagai ancaman. Orang – orang seperti itu biasanya menjadi arogan dan sering membanggakan pencapaian masa lalu alias samon (susah move on).

Selain pola pikir tetap, ada juga digital mindset. Berpikir secara digital ini memang bisa dikatakan masih sangat baru. Mindset ini hadir dikarenakan adanya kombinasi antara fixed dan growth mindset.

Digital mindset ini lebih merujuk kepada pola pikir yang memprioritaskan inovasi teknologi untuk membantu masyarakat untuk menjangkau informasi lebih efektif dan hemat waktu.

Misal, hadirnya KTP elektronik. Kartu Tanda Penduduk berbasis elektronik ini telah dilengkapi dengan fitur fasilitas online salah satunya yakni chip. Chip ini ialah teknologi inti di KTP el-yang telah berbasis mikroprosesor dengan dilengkapi memori 8 Kilobyte.

Fungsi chip ini banyak tentunya, antara lain untuk menyimpan data (biodata, tanda tangan, pas photo, serta sidik jari). Chip terletak di lapisan keempat E-KTP dan telah memenuhi standar ISO 14.443.A.14.443.

Apa guna kode dari ISO 14.443.A.14.443?

Supaya dapat menjaga privasi data diri pemilik KTP el tersebut supaya tidak bocor. Tapi, pasti kalian bertanya-tanya, mengapa KTP masih perlu difotokopi?

Alasannya itu lantaran fasilitas alat pembaca kartu, di berbagai instansi pelayanan publik tidak memadai. Ya mau tidak mau warga masih di beri beban cukup ringan dengan memfotokopi e-KTP. Padahal jika di pikir-pikir, fotokopi e-KTP adalah potensi menghamburkan uang, walaupun nominalnya receh. Bukankah begitu?

Kemudian, masih banyak lagi contoh dari digital mindset seperti penggunaan jasa kirim barang (J&T, JNE, Si Cepat, Anteraja), lalu ada teknologi penerbangan (Garuda Air, Sriwijaya Air, Batik Air, dan lain-lain). Itu semua memudahkan kita untuk bertransaksi baik itu berupa barang, uang, badan, dan tenaga.

Dari semua penjelasan yang telah terkupas ini, dapat ditarik kesimpulan tolok ukur berpikir tidak hanya sekedar muncul dari pola pikir saja, akan tetapi masih banyak yang dapat dipelajari kedepannya agar hidup lebih bisa berkembang melalui keterampilan diri, selain itu juga dapat menjadi pribadi yang bisa menerima masukan dari orang lain atau legowo.

Tulisan ini tidak akan diakhiri dengan solusi bagaimana kalian dapat memiliki growth mindset, tetapi saya ingin mengajak anda untuk mendefinisikan diri kalian sendiri dengan sebuah pernyataan.

“Apakah sejauh ini kalian sudah merasa sudah memiliki growth mindset?”

“Definisikan dirimu sendiri. Apakah orang lain juga mengatakan jika kamu adalah orang yang sangat berpikir terbuka?”

“Apakah selama ini masukan, kritik, dan saran orang lain sudah bisa kalian pisahkan mana yang menurutmu baik dan menjadi motivasi atau tidak?”

Tidak usah repot-repot di jawab disini. Cukup diresapi dalam hati, lebih-lebih kalau teman-teman berkenan untuk menjawab pernyataan itu di kolom komentar.

Terima kasih dan semoga bermanfaat bagi kita semua.

(Ayu Lestari)

Ayu Sastra
Assalamualaikum. Perkenalkan nama saya Ayu Lestari, hidup di tengah-tengah sudut kota kecil yang melegenda tepatnya di Kota Lasem. Saya merupakan penulis pemula yang ingin mendedikasikan diri khususnya dibidang kepenulisan. Akun Media Sosial FB : Aeyu Loestari IG : @ayu_lestari230801 @lestari_sastra WA : 0858 - 6803 - 1099