Gentong Miring Sluke Gelar Refleksi Akhir Tahun Bersama Para Seniman Rembang – Ayu Sastra

Gentong Miring Sluke Gelar Refleksi Akhir Tahun Bersama Para Seniman Rembang

Aksi pertunjukan teater tobong eMak Gugat dari Dody Yan Masfa. (Doc. ayusastra.com).

REMBANG, ayusastra.com – Pemilik Gentong Miring Art Gallery Sluke, Abdul Chamim usai menyelenggarakan acara refleksi akhir tahun bersama dengan beberapa tamu undangan yang hadir, pada Rabu (27/12/2023).

Pertunjukan baca puisi oleh pegiat sastra Se Kabupaten Rembang diantaranya Ayess, Sholach, Rosyid Ndoyek, Lestari Sastra, Son Haji, Daimul Umam, Harto Gak Kopenan, Mutiatulmuchlishoh, Ratih Fadevi, Akrom Yuwavfi, Rofiqul Thendo, TBM Lentera Kisik Plawangan Kragan, dan komunitas teater sarungan dari STAI Al Anwar turut meramaikan kegiatan malam itu, Kamis (28/12/2023).

Ditambah lagi, aksi teater yang dimainkan oleh Dody Yan Masfa asal Surabaya berhasil membuat peserta yang hadir terkesima dan riuh untuk bertepuk tangan.

Malam puncak refleksi akhir tahun dimulai pukul 19.30 WIB sampai 22.30 WIB. Abdul Chamim, pelukis lokal asal Sluke mengaku acara malam kemarin menjadi sebuah momentum penting bagi perjalanan kehidupan.

“Momentum akhir tahun yang syarat atas nilai dari sebuah perjalanan hidup dengan pencarian pencarian kebaruan. Sementara apa yang dinamakan kebaruan serta apa yang dikatakan dengan pencerahan hari ini masih berkubang dalam mitos yang sangat dalam,” ucap Chamim.

Pemilik Gentong Miring Art Gallery menjelaskan, jika pementasan ini sangat menginspirasi bagi senima, khususnya bagi pemuda. Pemikiran futuristik dengan tinjauan filosofis atas dasar pemikiran dari pementasan tersebut, membawa kami pada persoalan betapa pentingnya epistemologis sebagai pijakan konsep berkesenian.

Selaras dengan idealisme dari Abdul Chamim, pelaku seni teater Tobong Surabaya, Dody Yan Masfa mendeskripsikan apa pesan dibalik pertunjukan teater yang diberi nama “eMak Gugat.”

“Teater eMak gugat ini saya kemas sesederhana mungkin. Dimana kita bisa melihat bagaimana kegilaan sosial yang berlaku di ruang lingkup institusi pendidikan. Dimana itu menjadi sebuah refleksi realita kehidupan yang tak selalu berjalan mulus. Atau, dari sebuah perjalanan hidup yang panjang ini, disadari atau tidak, sosok emak-lah yang benar-benar merasakan kegetiran. Ia harus berjuang sepanjang zaman di tengah persoalan-persoalan kehidupan yang tidak pasti seperti ini,” sahutnya.

Peralatan serta pakaian yang dikenakan Dody syarat akan sebuah makna tersirat dalam pementasan teater eMak Gugat.

“Walaupun bisa dikatakan sebagai tambahan atau pemanis dalam seni teater, saya ingin memberikan kesan bagi pengunjung yang hadir. Tidak terlalu ribet dan secara tidak langsung daster, senter, dan aksesoris yang lain menjadi unsur terpenting bagi pelengkap dari eMak Gugat itu sendiri,” pungkas Dody.

(ayl/dna)

Ayu Sastra
Assalamualaikum. Perkenalkan nama saya Ayu Lestari, hidup di tengah-tengah sudut kota kecil yang melegenda tepatnya di Kota Lasem. Saya merupakan penulis pemula yang ingin mendedikasikan diri khususnya dibidang kepenulisan. Akun Media Sosial FB : Aeyu Loestari IG : @ayu_lestari230801 @lestari_sastra WA : 0858 - 6803 - 1099