Bullying? Jangan Lebay, Toh Juga Wajar – Ayu Sastra

Bullying? Jangan Lebay, Toh Juga Wajar

REMBANG – Alumni korban bullying, mana suaranya? Agaknya banyak ya. Saya jadi kepikiran menanyakan si pelaku bullying. Apa yang menjadi pemicu utama ia melancarkan aksi tersebut. Apakah karena rasa iri hati, dengki, kurang perhatian, atau ada faktor eksternal yang lain ya? coba kita bincangkan satu per satu.

Kata bullying berasal dari Bahasa Inggris, yaitu dari kata “bull ” yang berarti banteng yang senang merunduk kesana kemari. Dalam Bahasa Indonesia, secara etimologi kata bully berarti penggertak, orang yang mengganggu orang lemah. Sedangkan secara terminologi menurut Definisi bullying menurut Ken Rigby dalam Astuti (2008 ; 3, dalam Ariesto, 2009) adalah “sebuah hasrat untuk menyakiti. Dan perilaku ini sangat menyakiti korban secara lahiriyah maupun mentaliyah.

Kalau dikupas sedari awal, pemicu seseorang atau anak yang melakukan bullying itu bisa karena kekurangan kasih sayang orang tua ga sih? Permasalahannya keintiman emosional antar ibu, ayah, dan anak seharusnya terjalin secara utuh dan harmonis. Acap kali hal ini dianggap remeh oleh sebagian orang tua. Yang mengira, kasih sayang itu sudah cukup diberikan, tapi nyatanya masih belum cukup. Dan yang paling memprihatinkan, masih marak bullying di tempat-tempat untuk mencari ilmu misalnya sekolah, pesantren, tempat umum, bahkan lewat dry text, dan masih banyak lagi. Ampun pokoknya.

Perilaku mem-bully terkesan diwajarkan. Karena mungkin menurut orang yang belum mengerti, sekedar nonjok atau mengejek nama bapak itu hal yang tidak perlu dipermasalahkan. Padahal sangat mengganggu ya. Hal receh yang dilakukan secara terus-menerus dan akhirnya menjadi sebuah kebiasaan ini efeknya bukan hanya fisik saja. Tapi juga mental (batin). Korban perundungan senantiasa menarik diri dari aktivitas interaksi sehari-hari, tidak percaya diri, trauma berkepanjangan, dan yang lebih parah akan mengalami stress, cemas, dan takut akan situasi baru (dalam Haynie, dkk 2001).

Tapi untuk sejauh ini, kira-kira pembully itu tahu apa tidak ya kalau orang yang jadi korban perundungan itu mendapatkan trauma yang sangat berkepanjangan? mungkin seminimal-minimalnya pelaku itu tahu dan merasa bersalah dan sadar. Itupun jika usianya sudah terbilang dewasa. Namun, menurut penelitian yang ada sejauh ini, pelaku masih belum bisa mengontrol emosi pasca membully. Dari sini sudah terlihat jelas, ada yang salah di jiwa sang pembully.

Namun di balik itu semua, terkadang kita hanya merujuk ke satu sisi dimana ia sebagai pelaku. Coba jika kita telusuri lebih dalam, apa yang sedang ia alami, bagaimana dia bisa melakukan hal itu, apakah ada masalah di rumah, dan lain sebagainya. Dari kasus inilah, konselor menjadi pihak ketiga dalam penyembuhan psikis si pelaku.

Jadi, dari permasalahan bullying, kita bisa simpulkan bahwa peran ayah dan ibu sangat penting bagi tumbuh kembang anak. Tak hanya itu, pola komunikasi yang efektif dan selalu memantau gerak gerik anak itu juga menjadi tolak ukur penting bagi orang tua supaya tahu sejauh mana anak itu terus berkembang, selain itu pola lingkungan juga dapat membentuk karakter. Mengapa bisa dikatakan demikian? ya, karena lingkungan luar 65% akan ditiru dan ditangkap oleh anak dan akhirnya anak dapat memvalidasi fenomena di luar sana.

Teruntuk orang tua, barangkali ajak anak untuk berdiskusi dan menanyakan pertanyaan yang dasar mengenai cara untuk menghormati dan mengasihi. Ajarkan anak untuk bagaimana mereka harus sopan, saling menyayangi, tenggang rasa, dan mempunyai rasa empati kepada sesama teman maupun orang yang usianya jauh lebih tua. Ajarkan norma-norma yang sepatutnya untuk diterapkan.

Kekerasan itu identik kata ‘bekas’ dan ‘membekas’. Acap kali luka yang begitu dalam entah dari fisik, maupun kejiwaan. Pemulihan akibat bullying tidaklah mudah dan pasti memerlukan waktu yang lama. Perlu diingat, semua manusia patut untuk dimanusiakan. Lantas menurut kalian, bagaimana cara untuk menghilangkan kebiasaan membully seandainya potensi perundungan ini terjadi di sekolah? yang pastinya adalah sang guru selaku aktor utama untuk mencegah perbuatan itu terjadi.

Menurut Suparlan (2006), guru memilki satu kesatuan peran dan fungsi yang tak terpisahkan, antara kemampuan mendidik, membimbing, mengajar, dan melatih. Keempat kemampuan tersebut merupakan kemampuan integrativ, yang satu sama lain tak dapat dipisahkan dengan yang lain. Secara komprehensif sebenarnya guru harus memiliki keempat kemampuan tersebut secara utuh. Meskipun kemampuan mendidik harus lebih dominan. Dari sisi lain, guru sering dicitrakan memiliki peran ganda yang dikenal dengan EMASLIMDEF (educator, manager, administrator, supervisor, leader, innovator, dinamisator, evaluator, dan fasilitator). EMASLIM lebih merupakan peran kepala sekolah.

Akan tetapi, dalam skala mikro di kelas, peran itu juga harus dimiliki oleh para guru. Educator merupakan peran yang utama dan terutama, khususnya untuk peserta didik pada jenjang pendidikan dasar (SD dan SMP).[1] Lalu, bagaimana dengan peran orang tua? apakah tidak sepengaruh itu untuk mencegah perbuatan perundungan itu? Sama halnya dengan peran sang guru, tugas dari orang tua dari anak tersebut yaitu menindaklanjuti apa yang telah diberikan pengarahan dari guru. Kolaborasi inilah yang dapat mengantisipasi bullying terjadi.


[1] Arif Firmansyah, Peran Guru Dalam Penanganan Dan Pencegahan Bullying di Tingkat Sekolah Dasar Fitriawan, Universitas Selamat Sri Kendal, Jurnal Al Husna, Desember 2021, hal 205-216, Vol. 2, No. 3 hlm. 4.

Ayu Sastra
Assalamualaikum. Perkenalkan nama saya Ayu Lestari, hidup di tengah-tengah sudut kota kecil yang melegenda tepatnya di Kota Lasem. Saya merupakan penulis pemula yang ingin mendedikasikan diri khususnya dibidang kepenulisan. Akun Media Sosial FB : Aeyu Loestari IG : @ayu_lestari230801 @lestari_sastra WA : 0858 - 6803 - 1099